5 hal yang harus dilatih selama Ramadhan, apa saja?

prepare-ramadhanSebagaimana yang kita ketahui, di dalam Al-Quran, perintah untuk menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan terkandung di dalam Q.S. Al Baqarah ayat 183-187.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban umat Islam dan ia merupakan salah satu rukun Islam. Ini menunjukkan urgensi ibadah puasa tersebut.

Ramadhan merupakan bulan latihan (Syahru Tarbiyyah) dari pembiasaan amal-amal ibadah, pembiasaan amal-amal baik, dan pembiasaan amal shaleh. Sehingga, diharapkan segala amal ibadah dan amal shaleh ini akan masuk kepada struktur rohani kita.

Karena ajaran Islam bukan semata-mata pada aspek pikiran dan pengetahuan saja. Tapi ia juga meliputi hati dan amal perbuatan. Oleh karena itu kita harus kaffah (menyeluruh) di dalam menerapkan ajaran Islam ini, yakni pada seluruh aspek di dalam hidup kita. Yaitu mulai dari aspek hati (keyakinan, aqidah), ucapan, pikiran (pengetahuan), juga amal perbuatan. Maka itulah kaffah. Namun kaffah ini tentunya memerlukan proses. Untuk menjadi kaffah tidak instant. Ia melalui banyak tahapan.

Nah, ramadhan ini adalah tahapan kita untuk menjadi seorang Muslim yang kaffah, yang menyeluruh. Karenanya, mari kita manfaatkan ramadhan sebagai bulan untuk mendidik diri kita dalam beramal shaleh. Setidaknya ada 5 hal yang harus kita latih diri kita di bulan ramadhan ini, yaitu al-imsak (menahan), al-ikhlas, sabar, berbagi, dan disiplin.

Pertama, al-imsak (menahan)

Maksudnya adalah menahan makan menjelang subuh. Dalam H.R. Bukhari, waktu imsak kira-kira 50 ayat menuju adzan Subuh. Jadi, sekitar 10 menit menjelang adzan subuh, kita sudah selesai makan dan minum juga membersihkan mulut kita (menggosok gigi). Selain itu, al-imsak ini pun berarti menahan diri dari sesuatu yang tidak ada manfaatnya, baik ucapan maupun perbuatan. Kita jadikan ramadhan ini sebagai latihan diri sebagai pribadi yang produktif dan aktif di dalam kebaikan, sehingga kita dapat menjadi orang yang sukses. Tidak mungkin orang yang sukses menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tiada manfaatnya. Menurut Imam Al-Ghazali, ada 3 jenis shaum, yaitu :

a. Shaum awam, adalah shaum yang hanya menahan lapar dan haus saja. Kebanyakan kaum Muslim termasuk ke dalam golongan ini. Mereka berpuasa, tetapi mereka tidak mendapat apa-apa, selain lapar dan haus saja.

b. Shaum khos (khusus), yaitu shaum yang tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tapi juga menahan perbuatan dan ucapan yang tiada manfaatnya.

c. Shaum khos bil khos (lebih khusus), yaitu shaum yang menahan lapar, haus, menahan diri dari perbuatan yang sia-sia, juga mencurahkan segala waktu, pikiran, tenaga, dan perbuatan hanya untuk kebaikan dan amal shaleh semata.

Jenis shaum yang terakhir inilah yang mrpkn shaum yang sbenar-benarnya shaum. Semoga kita bisa menjadi golongan shaum khos bil khos.

Jadi, inti dari ibadah shaum adalah pengendalian diri. Menahan dari segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dan mencurahkan energi untuk kebaikan. Ibadah shaum ini mengajak kita untuk menahan diri dari perbuatan dosa, juga dekati berbuat dosa (QS 2: 187). Uniknya, perintah shaum ini dibingkai dengan dua kata takwa (di Q.S. 2 ayat 183 dan ayat 187). Ini menunjukkan bahwa ibadah shaum merupakan proses dalam rangka mencapai ketakwaan. Ia juga mengajarkan tentang kecintaan terhadap sesuatu yang harus dibingkai dengan kecintaan kepada Allah, benci pun harus karena Allah. Maka al-imsak ini meliputi segala hal, baik itu nikmat (harus bersyukur) dan juga ujian (harus bersabar). Juga sampai ibadah shaum kita hanya berhenti pada menahan makan dan minum saja. Tetapi lebih daripada itu.

Kedua, ramadhan mendidik tentang al-ikhlas (keikhlasan)

Suatu ibadah hanya diterima oleh Allah SWT jika didasari atas keikhlasan. “Setiap amal ibadah hamba-Ku adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku.” (Hadist Qudsi). Artinya, di dalam pelaksanaan ibadah shaum ini, lebih didominasi oleh dimensi vertikal kpada Allah. Ia terkait dgn hati yang ikhlas. Hanya Allah yang mengetahui ibadah shaum yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya. Diterima atau tidaknya tergantung pada niat yang ikhlas. Maka ramadhan ini sudah sepantasnya kta jadikan sebagai bulan latihan keikhlasan. Melakukan sesuatu hanya karena mengharap ridho Allah semata.

Ketiga, ramadhan adalah bulan untuk melatih kesabaran

Kesabaran artinya tabah, ulet, tahan uji, tidak emosional, tidak mudah putus asa. Karena yang akan memenangkan perjuangan sesungguhnya hanyalah orang-orang yang sabar. Begitu banyak contoh golongan sedikit mengalahkan golongan banyak karena kesabaran. Karena kesabaran yang akan membuat diri kita tahan uji di dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup apapun. Karena sesungguhnya Allah SWT selalu bersama dengan orang-orang yang sabar.

Keempat, ramadhan melatih kita untuk berbagi terhadap sesama.

Kita latih diri kita untuk memiliki semangat berbagi. Menebarkan sebanyak-banyaknya manfaat, baik itu harta, tenaga, dan pikiran kepada sesama.  Yakinlah, balasan bagi orang-orang yang dermawan adalah tak terhingga, apalagi di bulan ramadhan ini. Karena orang yang dermawan akan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga. Sebaliknya, orang yang bakhil, kikir, dan pelit akan jauh dengan Allah, jauh dengan manusia, dan dekat dengan neraka.

Misal balasan memberikan makan bagi orang yang berbuka adalah setara dengan orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa.  Yakinlah bahwa tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah. Maka mari kita latih diri kita menjadi pribadi yang dermawan.

Terakhir, Ramadhan adalah bulan untuk melatih kedisiplinan waktu

Di antara 24 jam, ada prime time (waktu utama) yaitu waktu sahur. Sahur memiliki 3 dimensi, yaitu dimensi makan, dimensi waktu, dan dimensi ibadah. Sahur sudah sepatutnya kita manfaatkan untuk bermunajat kepada Allah, menangis taubat kpada Allah, memohon ampun kepada-Nya. Bukan kita gunakan untuk tertawa-tawa hingga melupakan esensi dan keutamaan waktu sahur. Karena saat sahur, rahmat Allah turun ke bumi.

Di antara 1 tahun, ada waktu terbaik, yaitu 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Maka mari kita manfaatkan untuk ibadah, i’tikaf di masjid. Juga malah kita gunakan waktu terbaik tersebut untuk hal-hal keduniawian. Sungguh kita sangat merugi jika itu terjadi. Mudik pun sebaiknya jugan sampai mengganggu waktu ibadah kita. Malah membuat kita tidak shaum, dan meninggalkan prime time. Boleh mudik, tapi programkanlah mudik yang bijaksana sehingga kita bisa tetap memaksimalkan waktu-waktu terbaik di bulan Ramadhan. Demikian kultwit Tarhib Ramadhan ini. Marhaban ya Ramadhan. Semoga kita bisa memanfaatkan seluruh kesempatan untuk capai derajat takwa.

Wallahu a’lam bi ash shawwab.

KH Didin Hafidhuddin

SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s