Untukmu sahabatku

Sahabatku, dalam amanah ini, kita adalah pengambil keputusan tertinggi dalam wajihah ini.
Jika kita tidak saling mendukung alias bercerai-berai, gimana kondisi adik-adik kita di lapangan sana?
Jika kita masih sering mengedepankan ego masing-masing tanpa memikirkan wajihah ini secara menyeluruh, gimana yang lainnya?
Bahkan jika di antara kita masih saling bermusuhan atau menyimpan rasa tidak suka dan benci, gimana yang lainnya?Saat ini antum adalah pemimpin. Jadi berikan yang terbaik untuk amanah ini sesuai dengan kemampuan antum. Kita bergerak secara berjama’ah dgn tujuan yang sama, untuk apa saling iri dgn yang lainnya. Masing-masing kita hanya dituntut untuk melaksanakan peran kita masing-masing, kenapa masih ada rasa iri dgn saudara kita hanya karena sebuah jabatan.

Sahabatku, mari kita saling membantu.
Mari sama-sama saling menghargai.
Mari sama-sama saling mengisi satu sama lain.
Saat yang lainnya bisa, mari kita apresiasi.
Saat yang lainnya gak bisa, mari kita ajari.

Dalam perjuangannya, Rasulullah saw memiliki sahabat-sahabat yang memiliki karakter masing-masing. Abu Bakar dikenal sebagai orang yang paing arif karena kematangan usianya. Umar bin Khattab dikenal sebagai orang yang tegas da berwibawa dalam memutuskan suatu perkara. Utsman bin Affan dikenal sebagai konglomerat yang banyak menginfakkan harta di jalan Allah SWT. Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai anak muda yang cerdas serta penuh hikmah.
Keragaman karakter seperti itu memperkaya khazanah serta saling melengkapi satu sama lainnya, sehingga Islam dapat tersebar luas hampir ke seluruh benua dalam jangka waktu yang singkat.

Untukmu sahabatku,
Perjalanan kita baru dimulai. Tanamkan dalam diri kita, saat ini kita sedang beramal jama’i. Hilangkan dulu rasa ego kita masing-masing. Mari bekerja, berkarya, dan berhasil bersama-sama. Alasannya adalah karena umat lain pun saat ini sedang bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi umat Islam. Jadi, kenapa kita harus kalah?
Allah SWT berfirman yang artinya:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al-Baqarah: 120)

Oleh sebab itu, kita pun harus bersatu dan tidak boleh terpecah belah. Sudah bukan saatnya lagi bercerai dan bermusuhan hanya karena perbedaan pendapat. Apalagi sampai rasa benci kepada sesama kita masih tersimpan dalam hati. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran: 103)
Barakallah, semoga bermanfaat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s