Dari Preman menjadi Beriman

Aku mempunyai seorang teman, Wisnu namanya.  Ia teman akrab waktu aku duduk di bangku SMP.  Waktu sekolah di SMP Ia tinggal bersama Kakeknya, sementara orang tuanya berada di kota lain, sekitar 45 km dari tempat tinggal Kakeknya.  Aku pernah menginap di rumah orang tuanya, rumahnya cukup besar.  Ayahnya seorang Lurah, sehingga cukup dipandang oleh penduduk sekitar.

Aku tahu persis kelakuan Wisnu, boleh aku bilang termasuk anak yang ‘nakal’ waktu itu.  Sikapnya yang cenderung pendiam, ternyata menyimpan sifat ‘urakan’.  Tidak jarang Wisnu membuat ulah di kelas atau di sekolah, bahkan pernah di hukum ‘dijemur’ waktu upacara, karena rambutnya yang gondrong.  Tetapi, senakal-nakalnya Wisnu, Ia termasuk anak yang solider dengan teman-teman.  Baik sesama teman, Wisnu juga jarang mengganggu anak-anak wanita.

Selepas SMP, aku tidak pernah lagi bertemu, karena kami berlainan sekolah.  Tetapi beberapa pekan yang lalu aku ketemu Wisnu, dan ini pertemuan kedua setelah lebih dari 20 tahun berpisah.  Kami janjian untuk bertemu saat jam makan siang.  Disamping kami juga janjian bertemu dengan teman-teman SMP yang lain,  ada Fajar, Omi, dan Evi.
Di pertemuan itu kami saling melepas kangen, rindu, setelah sekian lama tidak bertemu.  Sambil makan, kami saling berbagi cerita.
Awalnya, aku bertanya ke Wisnu, waktu SMP Wisnu anak yang secara prestasi biasa-biasa saja, belum lagi cap ‘nakal’nya hampir dikenal oleh semua murid di sekolah waktu itu.  Tetapi lain dengan hari ini, Wisnu jauh lebih dewasa, penampilannya rapi, gagah, karena orangnya tinggi juga.  Belum lagi gaya bicaranya, menunjukkan ‘orang kantoran’ banget.  Dan satu yang tidak berubah, masih suka mbanyol.
Lalu mengalirlah cerita Wisnu tentang masa lalunya, termasuk ‘masa-masa kelamnya’.  Ketika SMA, tidak pernah belajar, bahkan lebih suka ikut geng-geng motor.  Tawuran antar geng motorpun sering Ia lakukan.  Ketika Ebtanas SMA, Ia menjawab soal dengan asal menghitami kertas jawaban saja.  Tidak lagi dilihat soalnya, Wisnu…Wisnu.  Uniknya, Ia lulus juga waktu SMA, walau dengan nilai apa adanya.
Begitu juga waktu kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Gudeg.  Tidak pernah serius Wisnu kuliah, bahkan hampir Drop Out (DO).  Karena kebaikan seorang Dosen lah, kemudian Wisnu lulus dengan IPK yang pas-pasan, itupun harus ‘mengemis-ngemis’ ke Dosen tersebut agar tidak DO.
Lulus dari perguruan tinggi, bukannya kerja, makin menjadi-jadi kelakuan Wisnu.  Bahkan Ia sendiri menyebut dirinya ‘preman’. Melanglang buana lah Wisnu ‘menikmati’ menjadi seorang preman.
Ia juga menjadi anak ‘dugem’, hampir tiap malam membuat onar di diskotik-diskotik, akrab dengan minuman keras, dan mabuk adalah biasa.  Bahkan, Wisnu pun pernah merasakan masuk penjara karena ulahnya.  Hebatnya, walaupun preman lagi-lagi Wisnu tidak suka mengganggu wanita.
Wisnu cepat dikenal di kalangan preman dan para ‘dugem’, karena ‘dekat’ dengan orang yang berkuasa di daerah itu.  Belum lagi Wisnu juga anak seorang pejabat desa.  Wisnu dikenal sebagai preman yang kalem, karena orangnya memang pendiam, atau karena tampilan orangJawa yang lembut?
Walaupun pendiam, Ia ditakuti oleh preman-preman lain.  Pernah ada pimpinan preman lain, orang Batak, diajak ‘duel’ satu lawan satu, ternyata preman itu takut, ‘jiper’ lebih dulu.  Padahal preman itu lebih ‘sangar’ penampilannya.
Anak buahnya juga cukup banyak, dari anak buahnya ini Wisnu tinggal menunggu setoran.  Setoran-setoran dari anak buahnya,  semalam saja bisa sampai dengan satu juta rupiah.  Sehingga sebulan, Wisnu mempunyai penghasilan yang melebihi gaji seorang Manager di perusahaan.
Aku yang mendengarkan sejak awal berdecak kagum, ceritanya bak sinetron saja.  Terus kenapa sekarang berubah drastis begini…?
Wisnu kembali bercerita…
Suatu ketika…biasa pulang dari ‘kerja malam’ sampai ke rumah pagi menjelang subuh, lalu tidur.  Menjelang siang, bangun tidur masih keadaan masih mengantuk, Ia menyenderkan tubuhnya ke sofa, sambil menonton TV.  Pada saat menguap…, tiba-tiba Wisnu dari mulutnya spontan berucap ‘Astaghfirullah hal azdim’.  Wisnu heran…, seumur-umur baru sekali Ia mengucap kalimat ini.  Walaupun Islam, Wisnu jarang melakukan sholat lima waktu, apalagi membacawiridz.  Ia merasa harus berubah, sudah diingatkan oleh Allah SWT, maka Wisnu begumam ‘aku harus berubah, menjadi lebih baik.’
Setelah mengucap kalimat itu…, tiba-tiba seolah-olah Ia melihat deretan dosa-dosa ditampakkan pada Wisnu.  Ia tergugu…, lidahnya kelu…, lalu menangislah Wisnu sejadi-jadinya…  Tetapi, sebelumnya Ia sempat melihat-lihat disekitar dia, jangan-jangan ada orang yang melihat dia, malu kalau ada yang melihat, masak preman menangis.
Setelah kejadian itu…, Ia berazzam untuk bertobat…, lari dunia hitamnya…, walaupun untuk sementara belum bisa lepas dari dunia preman.  Tetapi ada yang unik, kali ini setiap  datang ke ‘tempat kerja’,  Ia selalu membawa koran.  Saat waktu sholat isya’ tiba, Wisnu mencari tempat yang tersembunyi, lalu Ia sholat ditempat  dengan menggunakan alas koran yang dibawanya dari rumah.  Termasuk ketika sholat subuh pun, Ia mencari tempat yang sepi untuk sholat.  Atau juga  kadang-kadang, Wisnu berusaha pulang ke  rumah sebelum waktu subuh tiba, sehingga dapat leluasa melakukan sholat subuh di rumah.
Lama-lama perilaku Wisnu yang sering tidak ada, saat waktu sholat ‘isyak dan shubuh ini diketahui oleh teman-teman premannya.  Maka, suatu ketika ketika sholat subuh tiba, Wisnu pergi dari tempat duduknya, menuju ke tempat yang biasa dipakai sholat.  Rupanya, ada seorang teman preman yang mengikuti dari belakang.  Karena teman preman ini curiga, setiap waktu sholat shubuh, Wisnu selalu tidak ada di tempat duduk biasanya.  Tiba-tiba saja, preman ini sudah ada dibelakang Wisnu sambil menjawab salam, ketika Wisnu mengakiri sholatnya dengan salam.  Dan sejak saat itu pula, preman ini mengikuti Wisnu, akan melakukan sholat seperti Wisnu, walaupun preman.
Setelah sekian lama rajin sholat, hati Wisnu semakin galau…, tidak mungkin selamanya menjadi preman.  Maka Ia pun mencoba membuat lamaran pekerjaan ke sebuah perusahaan.  Ternyata Wisnu diterima kerja di perusahaan tersebut.  Walaupun dengan gaji sekitar Rp 300 ribu dan harus pergi ke Kalimantan, tetapi karena sudah tekad bulat untuk meninggalkan ‘pekerjaan haram’ itu, Wisnu meninggalkan kampung halaman dan semua ‘dunia hitamnya’, pergi ke Kalimantaan bekerja sebagai staff di sebuah perusahaan yang menjadi mitra perusahaan-perusahaan minyak.
Karena kesungguhan Wisnu bekerja…, tidak sampai tiga tahun Ia sudah menduduki levelManager di Perusahaan itu.  Dan tidak sampai enam tahun, kemudian Wisnu di pindah ke Jakarta, sebagai Manager Proyek.
Karena posisi inilah, yang menjadikan Wisnu sering berperan untuk negosiasi-negosiasi dengan calon klien.  Ketika negosiasi ini, agar goal, tidak jarang calon kliennya mengajak ke tempat-tempat hiburan, klub-klub malam.  Tetapi Wisnu tidak mau lagi mengulang masa lalunya, pernah ketika calon kliennya ini membawa Wisnu ke klub malam yang menyediakan wanita-wanita nakal, maka segera Ia bayar semua biaya makan itu, dan segera pergi dari tempat hiburan itu, sambil mengatakan, “Saya tidak mau mengkianati anak dan istri saya”.
Makanya, ketika melakukan deal-deal atau negosiasi-negosiasi proyek pekerjaan dengan calonkliennya, Wisnu lebih memilih di rumah makan, atau kalau perlu di Luar Negeri sekalian sepertiSingapura atau Hongkong,  dari pada harus di tempat-tempat hiburan malam.  Wisnu, tidak mau lagi mengingat masa lalunya.  Tidak mau lagi mengulanginya.  Justru sebaliknya, ingin berubah…, menjadi lebih baik.
Sekarang…, Wisnu menjadi manusia baru, santun, dan dermawan.  Bahkan dia sering melakukan sedekah, untuk membersihkan harta-harta yang dimilikinya.  Ia juga membuat yayasan yang menyantuni anak yatim dan dhuafa.  Ia ingin menjadi muslim yang taat, sholat lima waktu tidak pernah lagi tertinggal.  Terakhir beberapa bulan yang lalu, Wisnu melakukan Umroh bersama Fajar.
Hari itu aku mendapat hikmah yang sangat luar biasa, perjalanan seorang sahabat, karena kisah itu sangat menginspirasi bagiku.  Dari preman menjadi beriman.
Terima kasih…, sahabatku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s