Lelaki yang Beruntung

Lelaki itu tergopoh-gopoh memasukkan motornya ke halaman rumah. Badanya basah kuyup. Sebelumnya, Ia harus rela berhujan-hujan pulang dari kantornya.  Sebuah jas hujan lusuh setia menemaninya di atas motor dikala hujan datang.  Seperti juga sore itu, Ia harus segera pulang.  Rasanya hati Lelaki itu tidak tenang, karena harus meninggalkan istrinya di rumah.  Sebab hari itu istrinya sedang tidak sehat.

“Assalamu’alaikum…”
Lelaki itu memasuki rumahnya, dengan senyumnya yang lebar tentunya.  Karena dia ingin menampakkan wajah yang ceria di depan istrinya.  Agar istrinya selalu terhibur atas kehadirannya.
Dengan baju cukup basah, karena hujannya memang deras, jas hujan lusuh itu tidak sempurna juga menahan air hujan, sehingga air hujan masih bisa tembus, membuat baju yang dipakai Lelaki itu basah.
“Wa’alaikumussalam…”
“Wah, Abi kehujanan ya… biar Umi masakin air panas, buat mandi…”
“Gak usah Mi…biar Abi mandi air dingin saja…”
Lelaki itu sengaja tidak ingin merepotkan istrinya, apalagi sebenarnya istrinya sedang tidak sehat.  Istrinya masih dalam terapi atas penyakitnya.  Oleh dokter, Ia tidak boleh banyak bergerak termasuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Karena kalau banyak bergerak, maka akan membuat lebih lama lagi terapinya.  Untungnya, ada Teteh yang ikut membantu pekerjaan di rumah.
Dan ada alasan yang lebih penting lagi, kenapa Lelaki itu tidak ingin mandi dengan air panas.  Untuk menghemat, karena memasak air harus menggunakan kompor gas.  Sehingga gas tidak cepat habis, sepertinya sayang terpakai hanya untuk memasak air panas saja.
—————-
Setelah mandi, Lelaki itu menghampiri istrinya yang sejak dari kedatangan suaminya tadi, sedang berbicara dengan anaknya yang kedua, Difa, kelas 4 SD.
Rupanya istrinya sedang berbicara dengan Difa dari hati ke hati.  Cukup serius, karena tampak wajah Difa yang selalu ditekuk, dan matanya yang masih mengeluarkan air mata.
Hari itu Difa tidak masuk sekolah, entah yang kesekian kalinya.  Dengan alasan capek, banyak PR, atau panas saat upacara, seringnya Difa tidak mau sekolah.  Karena itu, hari itu juga Istrinya diharuskan menghadap ke Guru Pembimbing di sekolahnya.  Kata Guru Pembimbingnya yang seorang psikolog, Difa ini sebenarnya anaknya tidak bodoh, tetapi karena sering tidak masuk sekolah sehingga banyak ketinggalan pelajaran, termasuk kalau ada PR tidak pernah selesai dikerjakan.
Dan istrinya sedang membujuk Difa supaya rajin bersekolah, termasuk mengingatkan kembali kesepakatan-kesepakatan atau peraturan-peraturan yang pernah dibuat di rumah.
Lelaki itu duduk di dekat istrinya, dengan mimik serius, mendengarkan istrinya yang sedang menasihati anak keduanya itu.  Difa, dengan duduk menyender di sofa, masih sesenggukan, sepertinya seakan mengakui kesalahan yang dibuatnya.
Ingin memberi semangat juga, agar anaknya rajin sekolah, sesekali Lelaki itu mengusap kening dan rambut anaknya.
————–
Setelah selesai dinasehati, cepat sekali perubahan raut muka Difa, menjadi biasa lagi.  Namanya anak-anak, tidak sedih, sepertinya sama sekali lupa pada kesedihan sebelumnya. Difa segera beranjak dari sofa yang didudukinya, bergabung dengan dengan kakak dan kedua adiknya, untuk bermain di kamar.
Sekarang, giliran Lelaki itu menggeser lebih dekat, ingin berbicara serius dengan istrinya.
“Mi, ini uangnya….”
Lelaki itu menyodorkan uang sejumlah Rp 150.000,00 kepada istrinya.  Uang itu adalah hasil penjualan ‘tempe kripik’ di kantor suaminya.
“Maaf, tadi aku kasih ke Office Girl dua puluh ribu…”
Lelaki itu sering membawa barang dagangan ke kantor, menjajakannya kepada teman-teman kantor.  Kadang-kadang membawa dagangan baju, kaos, kue-kue, atau makanan-makanan kecil lainnya.  Itu semua titipan istrinya, dan Lelaki itu membantu menjualkan barang dagangan istrinya.
Dan karena hari itu, Lelaki itu meminta tolong mbak Yati, office girl di kantor, untuk menjajakan barang dagangannya, maka Ia memberi upah pada mbak Yati Rp 20.000,00.
Dulunya…, sang Isteri rajin berjualan di rumah, pernah jualan jilbab, ayam bakar, es cendol.  Awalnya semua jualan itu cukup laku, tetapi karena ‘kelelahan’ sehingga sang istri tidak lagi melanjutkan semua usaha-usaha itu.  Baru terakhir ini, setelah melalui serangkaian pemeriksaan dokter, diketahui  sang istri mengidap penyakit di kelenjar tiroidnya.  Kelenjar tiroidnya membesar, ada kista di dalamnya.  Itulah yang membuat istrinya mudah kelelahan, lesu, dan kadang-kadang disertai kantuk yang berat.  Sehingga karena ‘kelelahan’ itu, tidak bisa lagi berjualan.
Belum lagi sekarang, istrinya juga didiagnosa oleh dokter, mengidap penyakit ‘syaraf kejepit’ yang ada di lehernya.  Sehingga membuat kedua tangannya sering mengalami kesemutan.  Pernah suatu kali, ketika naik motor, tiba-tiba sepertinya tangannya baal, tidak terasa, motor oleng.  Alhamdulillah tidak jatuh, tetapi harus berhenti berkali-kali padahal hanya menempuh jarak yang tidak jauh.
“Alhamdulillah… ada untung, kemarin ambil barangnya seratus tiga puluh ribu…”
“Ini buat kontrol dan berobat lagi besok…”
Istrinya selalu bersyukur, sedikit banyak yang didapat dari hasil jualan itu selalu disyukuri.  Kalaupun harus habis juga untuk biaya berobat, karena memang sudah sunatullah saja.
—————
Hebatnya, manajemen istrinya adalah,  bahwa rizki yang diperoleh melalui tangannya atau suaminya, bukan berarti semua miliknya, ada banyak orang yang lebih membutuhkan.  Lebih lagi mereka masih saudara dengan kita.  Makanya harus berbagi dengan mereka.
Setiap bulan, sang istri menjadi manager keuangan.  Sang istrilah yang membuat pos-pos pengeluaran rumah tangganya.  Setelah semua keperluan wajib dikeluarkan, zakat, sedekah, biaya sekolah, tagihan listrik, cicilan rumah, cicilan motor, barulah sisanya untuk makan atau berobat.  Makanya, kadang-kadang untuk keperluan memasak, harus mengutang dulu di warung  sebelah.  Baru nanti, awal bulan setelah Lelaki itu gajian, dilunasilah hutang ke warung. Atau pas ada jadwal kontrol istrinya, tetapi belum ada uang, maka meminjam dulu ke orang tua, atau Saudara lain yang lebih mampu.
Lelaki itu sangat beruntung, mempunyai istri yang luar biasa kesabarannya.  Istrinya biasa saja menjalani kehidupan, tidak ‘down’ ketika Allah harus mengujinya dengan berbagai penyakit.  Justru kadang-kadang Lelaki itu yang merasa lemah.  Seringkali mengeluh atas semua cobaan ini.  Tetapi ketika rasa ‘lemah’ itu mendera, ruhhyahnya sedang turun, sang Istri cepat-cepat memberikan semangat.
Lelaki itu beruntung, mempunyai pasangan seorang entrepreneur, sehingga setiap ada kesempatan bisa berbuah menjadi penghasilan, tetapi karena fisiknya saja, jiwa entrepreneurnya belum teroptimalkan.  Tinggal ambil setiap pemahaman entrepreneurshipnya, kemudian dijalankan oleh orang lain, atau bahkan suaminya, maka akan menjadi peluang menambah penghasilan.
Lelaki itu sungguh beruntung, manakala mempunyai pasangan yang Super Mom, betapa tidak sampai dengan ‘kelelahan’ istrinya melahirkan, mengandung, membesarkan keempat anaknya, mengatur semua keperluan rumah tangga, mendidik anak-anaknya, sampai harus bersabar atas semua ‘penyakit’ yang Allah cobakan pada istrinya.  Benar-benar seorang wanita yang tangguh.
Sungguh Lelaki itu seorang suami yang beruntung.
Dan aku juga beruntung, mempunyai seorang sahabat seperti Lelaki itu, sahabat se-halaqoh.  Aku banyak belajar dari keluarga Lelaki itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s