Amanah

Teringat masa-masa itu, ketika beberapa hari menjelang amanah itu datang. Perasaan menjadi tidak karuan, karena merasa diri ini belum sanggup untuk memikul amanah seberat itu. Waktu terus berjalan hingga akhirnya tiba saatnya amanah itu datang. Amanah yang tadinya masih membayangi diri ini, kini telah merasuki tubuh. Mengalir disetiap urat nadi yang ada di bawah permukaan kulit dan menempati hati sebagai rumah utamanya. Tak terasa amanah itu sudah bertahan hampir 3 bulan di tubuh ini. Banyak hal yang dia berikan kepada tubuh ini, hingga tubuh ini pernah merasa kelelahan dan kepenatan. Rasa itu campur aduk dalam tubuh ini hingga akhirnya tubuh ini mengeluh untuk tidak sanggup lagi memikul dia. Kuceritakan hal ini kepada saudaraku dan mereka pun berkata kepadaku, “

“Sombong antm akh kalo bilang nggak pantes, nggak bisa, ngga bla2, itu berarti antm telah merendahkan kuasa Allah ats diri antm. skrng nggak usah ngeliat yg lain dulu lah… sy jg pernah banding-bandingin dg G1-G1 sebelumnya. rasanya jauuuh banget.. tp smkn kesini sy jd smkin ngerti, jngan sekali2 merendahkan diri kita krna itu sm dg merendahkan Allah. Jadi skrng, kita lakukan aja yg terbaik dan seoptimal yg kita bisa. Mw dibilang apa kek sm orng lain, biarin aja, biarlah Allah yg menilai..”

“Mungkin Allah mentarbiyah antum dengan jalan ini. Agar antum bisa berusaha lebih keras, agar antum bisa belajar lebih banyak. Semua yang diberikan Allah merupakan bentuk kasih sayang-Nya pada kita. Bersyukurlah dengan masa-masa sulit yang kita hadapi, karena dengan hal itulah kita menjadi dewasa. Mari bersyukur dengan amanah ini, (karena yang saya rasakan) amanah ini menjaga saya dari kelalaian. Mari bersyukur dengan amanah yang dibebankan pada kita, karena dengannya,kita memiliki kesempatan untuk berbuat lebih banyak, kita bisa berkontribusi lebih luas (dalam bidang masing-masing), dibandingkan saat kita menjadi staf (dengan syarat niat yang ikhlas tentunya). Dia mendidik kita dengan amanah ini. Agar kita kuat, agar kita semakin mendekat… (pada-Nya)”

Subhanallah, kata-kata itu mengingatkanku kembali bahwa diri ini ternyata kurang mensykuri nikmat yang diberikan oleh-Nya. Saat itu juga, aku menyadari bahwa diri ini pasti memiliki kelebihan walaupun hanya satu saja, tapi itu tidak dimiliki orang lain.

Terkadang diri ini mungkin merasa tidak sanggup dengan amanah itu, tapi jika Allah sudah berkehendak apakan kita akan melawan kehendak-Nya. Apakah kita mau menjadi orang yang kufur karena tidak pernah bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya. Na’udzubillahimindzalik, semoga kita dijauhkan dari hal ini.

Saudaraku, amanah itu memang berat, terlebih lagi jika amanah itu terkait dakwah. Dia bisa menyita semua waktu kita, bahkan diri kita bisa diminta olehnya untuk dijadikan pejuang dakwah. Tapi janganlah hal ini menjadi satu momok yang menakutkan dalam diri kita, sehingga kita menolak ketika amanah itu datang. Apalagi jika dalam satu kondisi, ketika kita menolak amanah itu padahal tidak ada lagi orang yang ahli dalam mengemban amanah ini, kita harus takut dengan peringatan Rasulullah SAW “Apabila amanat itu disia-siakan, maka tunggulah datangnya kiamat. Dikatakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, apakah maksud menyia-nyiakan amanat itu?” Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Kiamat!” (HR. Bukhari).

Jika kita melihat kisah para sahabat, masalah amanah ini pun pernah terjadi dalam diri mereka. Seperti kisah ketika Abu Bakar menjadi khalifah. Beliau tidak pernah menginginkan menjadi khalifah, namun ketika kaum muslimin memilihnya, ia pun menjadi khalifah terbaik bagi kaum muslimin. Umar takut dengan amanah, namun ketika Abu Bakar menunjuknya, ia siap dengan segala prestasi yang dibadikan sejarah.

Ya Allah, maafkan kami, ampuni segala kesalahan kami. Bimbinglah kami untuk menjalani amanah ini. Berikan petunjuk kepada kami agar kami tidak masuk dalam lubang kegagalan mengemban amanah ini. Kuatkanlah hati kami yang lemah ini, jadikanlah hati ini berniat ikhlas kepada-Mu agar keikhlasan ini bisa membuat kita lebih memahami paradigma sebuah amanah sesuai petunjuk-Mu. Amin…

2 thoughts on “Amanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s