Keteladanan Seorang Da’i sebelum Berdakwah

Saat ini, dakwah di kampus-kampus  sudah sangat terasa. Terdapat beberapa sayap dakwah yang berkontribusi secara langsung dalam proses dakwah tersebut. Beberapa  yang saya ketahui adalah syiar dan siyasi. Semua sayap-sayap dakwah ini pasti membutuhkan para Aktivis Dakwah Kampus (ADK) yang merupakan subjek dari kegiatan ini. Aktivis dakwah kampus atau da’i di kampus itu adalah orang-orang yang yang selain kuliah, mereka memiliki aktifitas untuk melakukan dakwah di kampus. Mereka menggunakan sarana dakwah yang ada di kampus tersebut. Untuk beberapa kampus, sarana-sarana dakwah yang ada seperti Unit Mahasiswa Islam, dakwah di Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, Unit-unit Kegiatan Mahasiswa, dan lain-lain.

Dalam keberjalanannya, banyak masalah-masalah dari dakwah kampus ini yang selalu menjadi tantangan terbesar bagi para ADK. Salah satu masalah tersebut adalah potensi dari ADK itu sendiri. Ini sangat berkaitan dengan kondisi dari diri ADK masing-masing. Sebagai contoh, ada pertanyaan seperti ini, apakah aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para da’I kampus atau ADK itu bisa mempengaruhi kondisi akademik serta ruhiyah dari masing – masing mereka? Jawabnya adalah iya. Seharusnya amanah dakwah yang diemban oleh para ADK itu dapat membuat prestasi akademik  mereka menjadi lebih baik. Mereka bertambah kritis, mereka menjadi orang yang lebih peka terhadap perubahan di lingkungan sekitar mereka. Karena aktifitas yang banyak, mereka dituntut untuk bisa me-manage waktu dengan baik, sehingga mereka menjadi orang-orang yang selalu bisa memanfaatkan waktu yang ada. Dengan pembagian waktu yang baik tersebut, mereka lebih fokus terhadap pelajaran yang diberikan di dalam kelas. Hal ini jelas merupakan pengaruh yang positif terhadap peningkatan prestasi akademik mereka. Begitupun dengan kondisi ruhiyah dari masing-masing da’I kampus ini. Mereka harus selalu menjaga amalan-amalan yaumiyahnya. Karena dengan amalan tersebut, secara otomatis kita akan merasa lebih dekat dengan Allah SWT dan merasa bahwa Allah adalah penolong utama kita dalam menjalani amanah dakwah ini.

Kenyataannya, untuk para da’i di kampus (hampir di semua perguruan tinggi ), kedua hal yang dijelaskan tadi masih sangat jarang terlihat di pribadi masing-masing da’i kampus. Kedua hal ini pun hanyalah beberapa contoh kondisi yang seharusnya dimiliki oleh para da’I kampus. Tetapi fakta kurang mengatakan seperti itu dan ini merupakan masalah yang bisa menghambat aktifitas dakwah kampus itu sendiri. Kenapa sampai hal-hal tersebut seharusnya dimiliki oleh setiap da’i kampus? Jawabannya adalah agar amanah dakwah yang kita emban ini berjalan dengan baik dan akan menghasilkan suatu output yang baik juga. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah keteladan dahulu dari seorang da’i sebelum dia memulai dakwah di kampus, khususnya di kampus kita yang tercinta ini, yaitu Institut Teknologi Bandung. Akan menjadi suatu hal yang aneh jika kita berdakwah kepada seseorang tetapi kita tidak bisa menjadi teladan bagi mereka.

Jika masalah ini telah kita sadari, tugas selanjutnya adalah bagaimana kita mewujudkan keteladanan tersebut sebelum kita berdakwah? Ada beberapa solusi yang bisa kita ambil agar keteladan itu bisa kita wujudkan.

Pertama adalah manajemen waktu. Sebagai seorang da’I, mau tidak mau kita harus memiliki manajemen waktu yang baik. Dalam setiap pekan, jika perlu dalam keseharian kita, kita telah memiliki gambaran aktivitas kita. Kapan kita kuliah, kapan kita berdakwah, kapan kita melakukan aktifitas pribadi, dan kapan kita melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba Allah SWT, semua itu seharusnya sudah tertata dengan baik. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi untuk mempermasalahkan yang namanya waktu. Intinya waktu kita dapat digunakan semaksimal mungkin dengan kegiatan yang bermakna dan bermanfaat.

Kedua adalah memiliki skala prioritas. Ini berguna ketika kita dihadapkan dalam suatu kegiatan yang nantinya dikerjakan dalam waktu yang sama. Biasanya ini terjadi jika ada jadwal yang tidak tersusun dengan baik atau ada agenda yang dating secara tiba-tiba. Disinilah peran sari skala prioritas. Kita harus mendahulukan kegiatan yang lebih penting. Jika jadwal telah tersusun dengan baik, tetapi ada agenda yang datang secara tiba-tiba dan kurang penting, bisa kita abaikan saja. Sebaliknya jika agenda tersebut penting dan harus dilaksanakan saat itu juga, mau tidak mau kita harus memilih salah satunya. Bisa jadi kita meminta tolong ke teman kita untuk menjadi perwakilan kita di acara yang satunya lagi. Inilah pentingnya kita harus memiliki skala prioritas.

Ketiga adalah optimalisasi peran disemua kegiatan. Ini penting agar setiap kegiatan yang kita lakukan tidak sia-sia. Ketika kuliah, kita betul-betul kuliah. Ketika kita berdakwah, kita focus berdakwah. Ketika kita beribadah, kita secara  optimal melakukan ibadah untuk mendapatkan ibadah yang khusyuk. Maksudnya, peran kita dalam setiap kegiatan harus dijalani dengan baik. Tidak mungkin kita akan mendapat hasil yang maksimal jika kita tidak focus mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam sebuah hadits, “Allah menyukai hamba-Nya yang memilih sebuah pekerjaan dan menekuninya.”

Keempat adalah melihat potensi diri kita masing-masing sebagai seorang da’I kampus. Potensi yang kita miliki bisa mempermudah kita untuk memberikan keteladanan bagi objek-objek dakwah kita. Jika kita termasuk orang yang yang akademiknya bagus, kita bisa menjadi teladan bagi mereka. Mereka akan merasa penasaran dan kagum melihat kita yang aktif dengan amanah di luar akademik tetapi memiliki prestasi akademik yang bagus. Atau jika kita punya prestasi di bidang lain, seperti di bidang olahraga dan kesenian, ini bisa menjadi teladan bagi mereka untuk terus berprestasi dan nantinya kita akan lebih muda mengajak mereka. Intinya lihatlah potensi diri dari masing-masing kita dan kembangkanlah.

Kelima adalah menjaga kondisi amalan yaumiyah kita atau kondisi ruhiyah kita. Ini merupakan hal yang wajib kita lakukan sebelum kita berdakwah. Ketika kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah SWT telah kita lakukan dengan baik dan selalu terjaga, insya Allah kita akan lebih mudah untuk mengemban amanah dakwah. Kita pun jangan melupakan sunnah Rasul. Ketika kita bisa menjaga kondisi ruhiyah, itu artinya kita telah mendapatkan kemenangan di mata Allah SWT dan kita akan lebih muda untuk berdakwah.Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan keteladanan tersebut. Jika dibuat matriksnya tampak seperti di atas. Ini bukan merupakan sebuah metode yang ideal, tetapi dari keseharian kita inilah yang cukup berpengaruh jika kita ingin menjadi teladan sebelum kita berdakwah.

Intinya keteladanan itu sangat penting bagi seorang aktifis dakwah kampus atau da’i kampus. Sebelum melakukan dakwah tersebut, keteladanan inilah yang harus kita tularkan kepada objek dakwah kita. Sehingga kita akan lebih muda untuk berdakwah.

 

Saat ini, dakwah kampus di ITB sudah sangat terasa. Terdapat beberapa sayap dakwah yang berkontribusi secara langsung dalam proses dakwah tersebut. Beberapa  yang saya ketahui adalah syiar dan siyasi. Semua sayap-sayap dakwah ini pasti membutuhkan para Aktivis Dakwah Kampus (ADK) yang merupakan subjek dari kegiatan ini. Aktivis dakwah kampus atau da’i di kampus itu adalah orang-orang yang yang selain kuliah, mereka memiliki aktifitas untuk melakukan dakwah di kampus. Mereka menggunakan sarana dakwah yang ada di kampus tersebut. Untuk ITB sendiri, sarana-sarana dakwah yang ada seperti GAMAIS, dakwah di Keluarga Mahasiswa ITB, Himpunan, Unit, dan MWA ITB.

Dalam keberjalanannya, banyak masalah-masalah dari dakwah kampus ini yang selalu menjadi tantangan terbesar bagi para ADK. Salah satu masalah tersebut adalah potensi dari ADK itu sendiri. Ini sangat berkaitan dengan kondisi dari diri ADK masing-masing. Sebagai contoh, ada pertanyaan seperti ini, apakah aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para da’I kampus atau ADK itu bisa mempengaruhi kondisi akademik serta ruhiyah dari masing – masing mereka? Jawabnya adalah iya. Seharusnya amanah dakwah yang diemban oleh para ADK itu dapat membuat prestasi akademik  mereka menjadi lebih baik. Mereka bertambah kritis, mereka menjadi orang yang lebih peka terhadap perubahan di lingkungan sekitar mereka. Karena aktifitas yang banyak, mereka dituntut untuk bisa me-manage waktu dengan baik, sehingga mereka menjadi orang-orang yang selalu bisa memanfaatkan waktu yang ada. Dengan pembagian waktu yang baik tersebut, mereka lebih fokus terhadap pelajaran yang diberikan di dalam kelas. Hal ini jelas merupakan pengaruh yang positif terhadap peningkatan prestasi akademik mereka. Begitupun dengan kondisi ruhiyah dari masing-masing da’I kampus ini. Mereka harus selalu menjaga amalan-amalan yaumiyahnya. Karena dengan amalan tersebut, secara otomatis kita akan merasa lebih dekat dengan Allah SWT dan merasa bahwa Allah adalah penolong utama kita dalam menjalani amanah dakwah ini.

Kenyataannya, untuk para da’i di kampus (Tidak hanya di ITB saja), kedua hal yang dijelaskan tadi masih sangat jarang terlihat di pribadi masing-masing da’i kampus. Kedua hal ini pun hanyalah beberapa contoh kondisi yang seharusnya dimiliki oleh para da’I kampus. Tetapi fakta kurang mengatakan seperti itu dan ini merupakan masalah yang bisa menghambat aktifitas dakwah kampus itu sendiri. Kenapa sampai hal-hal tersebut seharusnya dimiliki oleh setiap da’i kampus? Jawabannya adalah agar amanah dakwah yang kita emban ini berjalan dengan baik dan akan menghasilkan suatu output yang baik juga. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah keteladan dahulu dari seorang da’i sebelum dia memulai dakwah di kampus, khususnya di kampus kita yang tercinta ini, yaitu Institut Teknologi Bandung. Akan menjadi suatu hal yang aneh jika kita berdakwah kepada seseorang tetapi kita tidak bisa menjadi teladan bagi mereka.

Jika masalah ini telah kita sadari, tugas selanjutnya adalah bagaimana kita mewujudkan keteladanan tersebut sebelum kita berdakwah? Ada beberapa solusi yang bisa kita ambil agar keteladan itu bisa kita wujudkan.

Pertama adalah manajemen waktu. Sebagai seorang da’I, mau tidak mau kita harus memiliki manajemen waktu yang baik. Dalam setiap pekan, jika perlu dalam keseharian kita, kita telah memiliki gambaran aktivitas kita. Kapan kita kuliah, kapan kita berdakwah, kapan kita melakukan aktifitas pribadi, dan kapan kita melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba Allah SWT, semua itu seharusnya sudah tertata dengan baik. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi untuk mempermasalahkan yang namanya waktu. Intinya waktu kita dapat digunakan semaksimal mungkin dengan kegiatan yang bermakna dan bermanfaat.

Kedua adalah memiliki skala prioritas. Ini berguna ketika kita dihadapkan dalam suatu kegiatan yang nantinya dikerjakan dalam waktu yang sama. Biasanya ini terjadi jika ada jadwal yang tidak tersusun dengan baik atau ada agenda yang dating secara tiba-tiba. Disinilah peran sari skala prioritas. Kita harus mendahulukan kegiatan yang lebih penting. Jika jadwal telah tersusun dengan baik, tetapi ada agenda yang datang secara tiba-tiba dan kurang penting, bisa kita abaikan saja. Sebaliknya jika agenda tersebut penting dan harus dilaksanakan saat itu juga, mau tidak mau kita harus memilih salah satunya. Bisa jadi kita meminta tolong ke teman kita untuk menjadi perwakilan kita di acara yang satunya lagi. Inilah pentingnya kita harus memiliki skala prioritas.

Ketiga adalah optimalisasi peran disemua kegiatan. Ini penting agar setiap kegiatan yang kita lakukan tidak sia-sia. Ketika kuliah, kita betul-betul kuliah. Ketika kita berdakwah, kita focus berdakwah. Ketika kita beribadah, kita secara  optimal melakukan ibadah untuk mendapatkan ibadah yang khusyuk. Maksudnya, peran kita dalam setiap kegiatan harus dijalani dengan baik. Tidak mungkin kita akan mendapat hasil yang maksimal jika kita tidak focus mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam sebuah hadits, “Allah menyukai hamba-Nya yang memilih sebuah pekerjaan dan menekuninya.”

Keempat adalah melihat potensi diri kita masing-masing sebagai seorang da’I kampus. Potensi yang kita miliki bisa mempermudah kita untuk memberikan keteladanan bagi objek-objek dakwah kita. Jika kita termasuk orang yang yang akademiknya bagus, kita bisa menjadi teladan bagi mereka. Mereka akan merasa penasaran dan kagum melihat kita yang aktif dengan amanah di luar akademik tetapi memiliki prestasi akademik yang bagus. Atau jika kita punya prestasi di bidang lain, seperti di bidang olahraga dan kesenian, ini bisa menjadi teladan bagi mereka untuk terus berprestasi dan nantinya kita akan lebih muda mengajak mereka. Intinya lihatlah potensi diri dari masing-masing kita dan kembangkanlah.

Kelima adalah menjaga kondisi amalan yaumiyah kita atau kondisi ruhiyah kita. Ini merupakan hal yang wajib kita lakukan sebelum kita berdakwah. Ketika kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah SWT telah kita lakukan dengan baik dan selalu terjaga, insya Allah kita akan lebih mudah untuk mengemban amanah dakwah. Kita pun jangan melupakan sunnah Rasul. Ketika kita bisa menjaga kondisi ruhiyah, itu artinya kita telah mendapatkan kemenangan di mata Allah SWT dan kita akan lebih muda untuk berdakwah.

Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan keteladanan tersebut. Jika dibuat matriksnya tampak seperti di atas. Ini bukan merupakan sebuah metode yang ideal, tetapi dari keseharian kita inilah yang cukup berpengaruh jika kita ingin menjadi teladan sebelum kita berdakwah.

Intinya keteladanan itu sangat penting bagi seorang aktifis dakwah kampus atau da’i kampus. Sebelum melakukan dakwah tersebut, keteladanan inilah yang harus kita tularkan kepada objek dakwah kita. Sehingga kita akan lebih muda untuk berdakwah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s